Padan & Tarombo

Raja Tunggal berada di tengah-tengah keluarga Sigodang Ulu (Sihotang)

Ditulis tanggal 18 August 2013 | Oleh : | Kategori : Padan & Tarombo | 11 Komentar

Untuk dapat mengenal Raja Tunggal Hasugian dan Orang Kaya Tua Hasugian, maka perlu dibuat secara terperinci silsilah Raja Tunggal agar identitasnya jelas. Silsilah itu dimulai dari Si Raja Oloan.

Si Raja Oloan ialah ayah bersama dari Siganjang Ulu (Naibaho), Sigodang Ulu (Sihotang), Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang. Sedang ibu yang melahirkan Naibaho, Sihotang, Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang ialah boru Limbong dan boru Pasaribu.

Dua orang anak Si Raja Oloan mempunyai bentuk kepala yang ganjil yakni:

  1. Anak pertama bernama: Siganjang Ulu dimana bentuk kepalanya benjol agak memanjang tidak seperti kepala manusia biasa.
  2. Sedang anak yang kedua bernama: Sigodang Ulu, dimana bentuk kepalanya banyak benjol-benjol (marbuntul-buntul do uluna ndang lemes songon ulu ni jolma nasomal).

Si Raja Oloan merasa malu bilamana kedua anaknya yang ganjil bentuk kepalanya hadir pada pesta yang akan diadakannya. Oleh karena itu Si Raja Oloan mengambil inisiatif dengan menyuruh kedua anaknya itu pergi ke hutan mencari “hau borotan” dan rotan untuk dipergunakan di pesta yang akan diadakan nanti, karena hau borotan itu sangat diperlukan.

Kedua anaknya itupun pergi tanpa curiga akan maksud ayahnya. Setelah kedua anaknya itu pergi kehutan lalu ayahnya mengadakan pesta tanpa menunggu kehadiran kedua anaknya itu dari hutan. Hanya anaknya yang empat lagi yaitu : Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang hadir di pesta itu.

Waktu Siganjang Ulu dan Sigodang Ulu pulang dan hutan membawa hau borotan dan rotan mereka terkejut melihat keadaan di rumah dimana masih banyak daun-daunan berserakan di halaman rumah, menandakan baru diadakannya pesta tanpa sepengetahuan mereka berdua. Sejak peristiwa itulah kedua anaknya itu tidak betah tinggal bersama orangtuanya Si Raja Oloan di Bakkara serta merencanakan pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan keluarganya.

Kepergian Siganjang Ulu dan Sigodang Ulu membawa sejarah tersendiri, di mana:

  1. Siganjang Ulu pergi kesuatu tempat di kaki Bukit Pusuk Buhit sehingga namanya menjadi: “Naibaho” berasal dari kata Udan Baho = ambolas yakni ketika Siganjang Ulu kawin dan anaknya lahir tepat pada waktu hujan baho = ambolas sehingga diberi nama: “Naibaho”.
  2. Sigodang Ulu pergi ke tempat lain di mana tempat itu berada yang berbatasan ke sebelah utara dengan Danau Toba, ke sebelah selatan dengan hutan yang banyak ditumbuhi rotan, ke sebelah timur dengan Tanah Tamba dan ke sebelah barat dengan Tanah Harian Boho dan tempat ini disebut: Tano Sihotang berhubung ditempat ini banyak rotan (Rotan: Hotang). Setelah itu Sigodang Ulu kawin dan memakai marga Sihotang. Sehingga Sigodang Ulu disebut Sigodang Ulu – Sihotang.
  3. Yang pertama dikawini Sigodang Ulu ialah boru Tamba. Setelah boru Tamba meninggal, kemudian sigodang Ulu kawin dengan boru Simbolon. Oleh karena itu boru Simbolon adalah istri pengganti dari boru Tamba. Dengan demikian, jelaslah istri yang kedua ini bukan dimadu.

Hasil perkawinan Sigodang Ulu dengan boru Tamba dan boru Simbolon adalah : 7 (tujuh) anak laki-laki bernama :

  1. Pardabuan
  2. Sorganimusu
  3. Torbandolok
  4. Randos
  5. Marsoit
  6. Raja Tunggal
  7. Orang Kaya Tua
  8. dan anak perempuan bernama: Sobosihon

Sobosihon kawin dengan Raja Marsundung. Perkawinan Raja Marsundung Simanjuntak dengan Sobosihon adalah istri pengganti Boru Hasibuan yang meninggal. Hasil perkawinan Sobosihon dengan Raja Marsundung mempunyai tiga orang anak bernama: Mardaup, Sitombuk dan Huta Bulu yang disebut Simanjuntak Si Tolu Sada Ina.

Dengan demikian Raja Tunggal adalah anak yang ke-enam dari Sigodang Ulu – Sihotang. Di mana Raja Tunggal bersama adiknya Orang Kaya Tua anak yang ke-tujuh, yang membawakan marga Hasugian.

Pada waktu itu anak yang paling besar dan dapat bekerja ke hutan adalah anak pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima sehingga mereka berlima sehari-hari bekerja bertani dan mencari rotan ke hutan sedang anak yang dua orang lagi yakni anak keenam dan anak ketujuh tinggal di rumah, karena merasa belum mampu melakukan pekerjaan seperti pekerjaan yang dilakukan abangnya yang lima orang itu.

Dengan demikian anaknya yang lima orang itulah setiap hari bekerja keras untuk mencari nafkah mereka. Namun pada waktu makan selalu kepada anak yang dua orang itu diberikan makanan yang paling banyak padahal anak yang lima orang itulah yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah mereka, dan hal ini tidak wajar dihati dan pikiran anak yang lima orang itu.

Oleh karena Raja Tunggal dan adiknya tinggal dirumah, maka kesempatan ini dipergunakan Sigodang Ulu – Sihotang (ayahnya) mengajar anaknya yang dua orang itu ilmu tradisional (hadatuon) dan ilmu alat perang yakni : ULTOP dan TALI SOLANG yang lama-kelamaan ilmu ini menjadi ketertarikan bagi Raja Tunggal sendiri.

Raja Tunggal sudah tertarik dan dipengaruhi akan ilmu tradisional (hadatuon), ULTOP dan TALI SOLANG sehingga dia bersama adiknya tidak mau membantu abangnya bekerja. Sedang pada waktu makan selalu mereka berdua lebih banyak mendapat makanan (nasi) daripada abangnya yang lima orang itu. Ketika mereka tidak sama-sama makan selalu kepada anak yang lima orang itu ditinggalkan makanan lebih sedikit bila dibandingkan dengan bagian anak yang dua orang itu dan hal ini dibenarkan oleh ibu mereka yakni boru Simbolon yang lama kelamaan anaknya yang lima orang itu menjadi benci terhadap adiknya yang dua orang itu.

Setelah Sigodang Ulu – Sihotang (ayahnya) meninggal maka kebencian yang selama ini masih terpendam dihati yang lima orang itu terhadap adiknya dan ibunya boru Simbolon menjadi kenyataan, dimana mereka mencari alasan yang tepat agar adiknya itu dapat dipukul dan bila perlu dibunuh. Hal ini kelihatan ketika adiknya Raja Tunggal selesai makan dan turun ke halaman rumah kemudian memotong sedikit ujung rotan yang kebetulan baru selesai dikumpul abangnya itu yang dipergunakan Raja Tunggal untuk menjungkit sisa makanan digiginya, lalu melihat keadaan itu Randos marah dan langsung memukul serta mengancam untuk dibunuh dan berkata: “Kami telah bersusah payah mencari rotan tersebut dari hutan sedang engkau enak-enak memotong”. Akan tetapi Raja Tunggal tidak mau melawan abangnya itu karena dia sadar akan aturan berabang adik walaupun sebenarnya dia dapat melawan abangnya itu karena dia mempunyai ilmu, akan tetapi ilmu yang dipelajarinya itu tidak banggakannya. Begitu abangnya itu memarahi, Raja Tunggal selalu tidak melawan dalam bentuk apapun.

Karena ancaman dari abangnya itu dan dirasa mereka tidak aman lagi berkumpul dengan abangnya, maka Raja Tunggal merencanakan akan lari meninggalkan Tanah Sihotang. Dari keadaan inilah kata HASUGIAN berasal dari kata: Sugi (benci = Sogo) atau HASOGOAN dimana abangnya yang lima orang itu telah membenci Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua. Oleh sebab itu lama kelamaan marga Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua memakai marga HASUGIAN.

Sumber : Hasugian.Net

Jika ada informasi yang lebih akurat mengenai “Raja Tunggal berada di tengah-tengah keluarga Sigodang Ulu (Sihotang)”, silahkan hubungi kami untuk klarifikasi


Komentar

  • azura

    11 October 2013 at 9:19 pm

    saya ingin belajar tentang tarombo. saya sejak lahir hanya tau bahwa saya dan org tua bermarga sinambela.

  • Ali ucong orang kaya tua hasugian

    12 November 2013 at 7:48 pm

    Setuju.
    Setelah itu, siraja tunggal dan si orang kaya tua beserta ibunya boru simbolon pergi meninggalkan negeri sihotang dan sampailah di dolok si martimpus, disanalah kemudian ibunya meninggal.
    Perjalanan keduanya trus berlanjut sampai kesebuah perladangan milik datu parulas,
    kemudian siraja tunggal menikah dengan boru sumangge yaitu putri dari datu parulas, dan si orang kaya tua kemudian menikah dengan boru tinanmbunan yaitu inang bao dari siraja tunggal, perkampungan marga hasugian ini kemudian disebut dgn PARLILITAN, si orang kaya tua kemudian memiliki 3 orang anak; yaitu orang kaya penali, orang kaya bale dan orang kaya muda.

  • admin

    26 November 2013 at 3:22 am

    @azura : nauli, bolehlah kita saling belajar bersama juga :) Horas

  • Silver Price

    8 January 2014 at 10:05 am

    Seperti yang kita ketahui bahwa Raja Simamora memiilki 3 anak, yaitu Purba, Manalu dan Debataraja. Sedangkan Debataraja sendiri juga memiliki 3 orang anak, yaitu Sampe tua, Babiat Nainggol, dan Marbulang serta 1 orang putri (boru) yaitu Siboru Namotung (Sibottar Mudar). Lihat tarombo Simamora Pada awalnya, mereka tinggal di Samosir, namun karena kemiskinnya (hapogoson) mereka pergi ke Bakkara, disana Siboru Namotung bertemu dan disukai oleh Hamang (sejenis begu) tanpa wujud dan hanya pada malam hari kelihatan. Lalu Hamang pun melamarnya dan minta izin kepada ketiga saudaranya itu, ternyata mereka setuju untuk menikahkan asalkan Hamang bersedia membuat pesta besar untuk pernikahan itu. Alhasil, dibuatlah pesta yang sangat besar, namun memang terasa ada keanehan, karena sebagian orang tidak terlihat di pesta itu. Setelah sekian lama, ada seorang Raja Barus bermarga Pasaribu hendak mencarikan seorang menantu untuk anaknya, maka sang rajapun menerbangkan sebuah layang-layang dan bersabda “barang siapa yang menemukan layang-layang itu bila perempuan akan kujadikan menantu dan bila lelaki akan kujadikan anak”. Setelah layang-layang diterbangkan maka sang rajapun menyuruh bawahannya untuk melacak siapa gerangan yang akan menemukannya.

  • Abdul Halim Sihotang

    11 January 2014 at 4:47 pm

    Mengambil pelajaran dr masa lalu untuk kebaikan hari ini dan esok. Horas ma di hita pomparan ni si Raja Oloan

  • renatha sihotang

    17 March 2014 at 4:30 pm

    sungguh sangat membantu. sy lahir dan dibesarkan di jkt. jd sempat tdk perduli dgn adat istiadat. tp sjak menikah dg org luar batak malah jd terpacu untuk tau.. krn suami sasngat antusias ttg adat batak. horas.

  • hardi antoro hasugian Ssi

    4 July 2015 at 7:39 pm

    Trimakasih atas penjelasan tarombonya,saya secara pribadi jd mengerti asal usul marga ku(hasugian siraja oloan)
    Mauliate godang tu hamu aka natua2 dohot tu ni raja huta sude……HORAS

  • Frans Sihotang

    16 October 2015 at 9:48 am

    malu… saya malu kalau di tanyak tarombo…saya malu karena saya tidak tau… jadi trimakasi kepada orang-orang yang peduli termasuk generasi anak-anak Muda Batak yang mau memberikan pengetahuannya tentang Adat…
    Orang JEPANG hebat karena adat dan tradisinya kenapa kita tidak…?
    jadi timakasi kepada mereka yang peduli..

    Tapi TOLONG kepada orang2 yg iseng, jangan di tambah2in cerita2 yang tidak benar.. nnti jadi rusak History Halak BATAK… ok!

  • Pinompar Sigodangulu(Sihotang)

    26 October 2015 at 9:35 pm

    bersatulah pinoppar sigodangulu(sihotang)
    Ayah=
    -Sihotang
    Anak=
    -pardabuan
    -sorganimusu
    -torbandolok
    -randos
    -marsoit
    -raja tunggal(hasugian)
    -orang kaya tua(hasugian)
    disini kita sharing/curhat,sebenarnya(sebaiknya)kita menggunakan marga ayahnya atau anaknya,salahkah kita menggunakan marga ayahnya atau anaknya?

  • sardo sihotang

    26 December 2015 at 8:10 am

    Horas ito

    isedo tahe goarni namborutta saparurutan ni opung ta si raja tunggal dohot orang kaya tua

  • yoel hasugian

    20 January 2016 at 8:14 pm

    Saya adalah yoel hasugian no. 16 dari marga hasugian raja tunggal saya ingin tahu dimana makam kakek saya yaitu raja tunggal

Beri Komentar